Titip Cerita pada Hujan Bulan Pebruari
Gerimis mulai membasahi sebagian tepi balkon. Para pemilik atau pekerja sawah yang tadinya masih bercengkerama di gubuk itu, sudah tak terlihat lagi. Kawanan burung walet, sriti, srigunting, atau apalah menyebutnya, yang biasa terbang berputaran di atas sawah saat sedang mendung, lenyap sudah entah pulang di mana sarangnya. Yang selalu nyaring hanyalah suara riak sungai di bawah sana. Bahkan saat hujan deraspun, masih kalah oleh derunya.
Yang masih tetap berdiri di sana -dari balik tirai aku menatap- menyandarkan kepala pada tiang pembatas balkon, perempuan itu. Berbaju warna dasar oranye, kembang-kembang merah dan sulur putih, dengan bawahan celana warna abu tua. Seperti ingin menyembunyikan muka, badan, dan kakinya-pun seluruh isi hati dan pikirannya sebisa- di sudut balkon itu. Tak jelas apa yang sedang ditatap dan bagaimana mimik rautnya. Sedang sedih atau bahagiakah. Boleh jadi angannya penuh dengan 'terimakasih Tuhan, masih Kau ijinkan di sini lagi.. ' atau 'kenapa harus di sini lagi.. ' atau entahlah.
Aku sudah terlalu lelah dengan semua keluhannya. Tentang komunikasi, inginnya, butuhnya, dan segala keberatannya. Tentang menunggu, mengharap, dan rasa kehilangannya akan hadirku, kabarku, dan keberadaanku. Semua yang aku beri dan lakukan seperti tak pernah ada arti untuknya. Aku tak pernah bosan meminta maaf untuk ketakberdayaanku menjadi seperti yang diinginkannya. Meski sering juga aku merasa enggan. Bagaimana sih rasanya telah melakukan semuanya, tapi selalu berbuah complain. Yang akhirnya membuatku selalu merasa salah dan kurang.
***
Assalamualaikum..
Mowning..
Semoga hari ini membawa berkah sehat untukmu, dimudahkan segala urusanmu, diijabah semua panjat dan inginmu
Mowning..
Semoga hari ini membawa berkah sehat untukmu, dimudahkan segala urusanmu, diijabah semua panjat dan inginmu
Ringan sekali aku menulis pesan pagi untuknya. Selalu ingin menyapanya. Sekali, berkali-kali, setiap pagi.
Sempatkan makan,
Sempatkan shalat,
Selalu hati-hati..
Sempatkan shalat,
Selalu hati-hati..
Seringan mengingatkannya di setengah siang, sore, dan malamnya.
Hujan..
Raincoat nya dibawa kan?
Raincoat nya dibawa kan?
Sesekali karena sesuatu hal aku melalaikan pesan-pesan semacam, maka selisih paham tak dapat dihindari, dan pasti akan berlama-lama tak saling bertegur. Keluhan demi keluhan yang kata dia 'Aku tak pernah meminta. Tapi kamu membiasakan sesuatu yang membuatku terbiasa.. " makin hari makin mewarnai cerita kami.
Sampai suatu saat dia merasa aku telah banyak berubah.
"Ngapain aja dulu kamu bisa bikin aku berbunga-bunga setiap saat.. " Ujarnya.
Dan dia selalu menceramahiku dengan kalimat "distance doesn't ruin relationship. Communication does.."
"Ngapain aja dulu kamu bisa bikin aku berbunga-bunga setiap saat.. " Ujarnya.
Dan dia selalu menceramahiku dengan kalimat "distance doesn't ruin relationship. Communication does.."
Atau "indikasi peduli itu ada pada range satu sampai tiga jam. Menunggu kabar di sela itu masih berbilang wajar. Hilang tanpa kabar lebih dari tiga jam, seorang penunggu akan berada pada batas ambang ketidakwarasan"
Atau "good friends will find good times to talk to you, while the loving one will spend even in their busy time to talk to you. Know the difference"
Jujur saja, aku sering tidak sepakat dengan kalimatnya yang mengataiku "Saat aku butuh kamu kemana? Hancur hidupku kalau semua harus menunggu kamu bisa. Sedang kamu ga pernah sedikit saja memaksa untuk ada dan bisa". Lebih-lebih istilah "ilang-ilangan" yang selalu dia gunakan untuk melabeliku.
Yang lebih sakit saat dia mengataiku 'mengabaikan dan melupakan' karena rasa takutnya cintaku padanya akan berkurang. Sedang aku sudah pernah menjelaskan "Bagaimana aku bisa melupa, sedang saat terlelap dan terbuka mataku, yang ada hanya kamu. Satu-satunya yang aku maknai sebagai cinta"
Sering aku memilih diam sekedar untuk menghindar dari adu argumen yang tak perlu. Dan sering pula aku lalu pergi, karena merasa tak mampu meyakinkan. Tapi dia selalu datang. Menawarkan uluran tangan untuk melangkah bersama "Let's make it. Hold my hands. Walk together for a better us"
***
"Aku mengenalmu sebagian, dari tulisan dan ceritamu. Atau, aku mengenalmu seluruh, dari tulisan, dan cerita-ceritamu. "
Kalimat itu dielaknya. Dia selalu menyebutku menilai, menyimpulkan tentangnya. Dia memberitahuku, dia menulis tak untuk diartikan tentang dan untuk siapa tulisannya.
Dia mengataiku "Kamu mengenalku saat ini. Saat itu? Kamu bahkan tak punya ide aku adalah siapa dan seperti apa"
Bahkan dia pernah berkata "Coba kalau yang bicara sembarangan itu orang di luar sana, sudah pasti aku gampar.. " yang membuatku bersumpah, memohon maaf sambil mencium kakinya, untuk tak akan lagi mengungkit cerita tentang seseorang yang pernah aku lihat di simpanan gambar dan percakapannya, yang aku simpulkan 'Oh.. He's the man'
Dan aku pernah mengucap "Aku akan belajar untuk segera beranjak dan keluar dari kubangan pikiran sempitku sendiri.."
***
Dia duduk perlahan di salah satu kursi balkon, digesernya untuk menghadap meja, membuka bungkus makanan. Aku perhatiakan setiap gerakan tangannya memungut nasi, sayur, lauk, lalu memasukkan ke mulutnya. Dia banyak tertunduk. Ya, tak seperti biasanya, kita makan sambil bercerita tentang banyak hal. Hanya beberapa suap, dia lalu berdiri dan mencuci tangannya. Sempat terlihat di cermin matanya berkaca-kaca.
Lalu dia memilih duduk perlahan di tepi matras berseprei offwhite itu. Aku menarik kursi rotan sintetis warna coklat ke depannya, dan duduk menghadapnya.
Mungkin sore itu dia ingin menunjukkanku, ini waktu bicara kami-atau dia lebih tepatnya- yang terakhir. Yang aku ingat saat itu dia berkata pelan-pelan. Kalimat demi kalimat..
"Aku hanya sendiri. Sudah terlalu banyak yang harus aku pikirkan. Aku lelah. Aku butuh dikuatkan. Kalau kamu masih mau melemahkan aku dengan pikiran dan prasangkamu, maaf aku sudah ga bisa terima lagi. "
Agak lama aku terdiam. Lalu aku tanya "Kamu ingin pamit? "
"Ada kalimatku mengatakan itu? " balasnya.
Aku menggeleng.
Dia meneruskan "Aku ga mungkin menghabiskan sisa usiaku untuk mengklarifikasi kesalahan-kesalahan yang ga pernah aku lalukan, tapi selalu kamu munculkan dari pikiran dan prasangkamu sendiri. "
Dan ujung dari semua rasa terpuruknya, diungkapnya "Tanggung kalau cuma delete contact dan pergi sejauh umrah. Sudah habis kata, pikiran, hati dan hidupku. Tembak saja aku. Tak perlu membunuh aku pelan-pelan"
Dan.. Ya.. Aku diam. Aku tak sanggup menyanggah, membantah apapun yang dikatanya. Aku mengendap seluruh rasa, pikir dan anganku sendiri. Aku menahan seluruh sesak, sebisa mungkin tak terlihat menitikkan air mata di depannya. Lelaki pantang menangis di depan perempuan yang dicintanya.
Sungguh.. Di hati kecilku berbisik..Aku ingin mencintanya dengan sederhana. Sesederhana aku melihat, mengenalnya, mengagumi, lalu jatuh cinta padanya, seperti saat itu.
Tapi sungguh.. Dengan berjalannya waktu, semua rasa, ingin, butuh, seperti menjadi kompilasi alur yang tak mudah aku kendalikan lagi. Sesering aku memberitahunya 'aku mencintamu tanpa syarat. Tanpa syarat' sesering itu pula aku mencederai kalimatku sendiri. Karena sampai di sini, aku masih saja menilainya. Tak mampu mengolah egoku sendiri, untuk melemahkannya lagi, menengok ke masa lalunya yang aku tak tahu sebenarnya, tapi selalu merasa tahu.
***
"Boleh ngga jatuh cinta sama yang kerudung merah? " Tanyaku saat dia mengirim gambar duduk bersebelahan dengan teman wanitanya di sebuah acara.
"Tolong bisikkan di telinganya" Lanjutku,
"Demi Allah, aku selalu memintanya di baitullah. "
Dia membalas "I can't say a word.. "
Batinku 'tak perlu bicara. Aku tahu aku cinta. Bahkan sejak awal aku hanya ingin menyimpan tanpa memberitahumu tentang rasaku. Aku ingin mencinta sendiri. Aku bahkan tak pernah berpikir akan kau balas seperti apa rasaku bila kau mengetahuinya. Dan benar saja, seperti mimpi, aku masih seperti tak percaya. Kau membalas anugerah rasa ini dengan cinta yang luar biasa'.
Ya, seringkali aku meyakinkan diriku kamu cinta. Tapi kalimat dan sikapku sering kau terjemahkan aku selalu ragu padamu. Sering kau mengeluh tak mampu menunjukkan rasamu. Katamu aku hanya sibuk meyakinkanmu bahwa aku cinta. Tapi aku tak sedikitpun memberi ruang hatiku sendiri untuk meyakini kamu cinta.
"Terimakasih masih buatku menangis setiap selesai shalat. " Kataku waktu itu
Pun aku pernah bercerita padanya bagaimana aku memohon ampun pada Tuhan "Aku mencintanya tanpa mampu membahagiakan. "
Pun aku pernah bercerita padanya bagaimana aku memohon ampun pada Tuhan "Aku mencintanya tanpa mampu membahagiakan. "
Masih terus kuingat tulisan bergambar itu 'A woman won't change a man because she loves him. A man changes himself because he loves her'
Dan masih kuingat dia berucap "Aku sudah menjauh dari segala kerumunan. Keluar dari semua grup sekolah dan kampus. Aku tak lagi butuh hiburan, untuk sekedar ber-hahahihi di tengah malam sepiku. Setidaknya untuk memberitahumu, tak ada lagi yang aku tunggu dan cari dalam hidup. Cuman kamu. "
Sebegitu jelas dia menegaskan segala rasanya padaku. Tapi entah, selalu ada saja yang membuatku merasa lemah. Tak mampu menjadi seperti yang dia mau. Selalu berpikir ada dia atau mereka yang lebih mampu membuatnya tersenyum dan bahagia.
"Jangan berubah. Tetaplah menjadi kamu. Kamu yang dulu. Yang selalu ceria, hangat pada siapa saja, dan penuh cerita." pintaku,
"Kamu ga perlu meminta. Aku yang harus merubah diriku sendiri. Biar kamu yakin, aku tak pernah butuh dia atau mereka, yang katamu akan mampu membuatku tersenyum lebih bahagia." sergahnya.
"Mereka mencari, rindu kamu. Bukalah media sosialmu. Kembalilah pada mereka. Unfollow saja akunku. Mereka menunggumu untuk berbagi senda tawa" pintaku lagi
Dia tak lagi bicara. Karena sebelumnya dia telah menjelaskanku "aku sudah berhenti menulis, semua media sosial aku deactivate, aku juga sudah menghapus semua tulisanku sebelum kamu ada. Aku sisakan cerita yang aku tulis sejak kamu datang, sampai hari ini. Hanya cerita tentang kamu. Aku berharap kamu segera lelah dan berhenti menilai diriku"
***
"Aku melihat kau di pintu Rumah Sakit. Aku masih berdiri di sini sekarang. Aku ingin tahu, ingin lihat.."
"Ingin tahu apa? Lihat apa? " Tanyanya.
"Boleh aku jenguk? "
"Untuk apa? Menyalahkanku lalu pergi lagi? "
Ya.. Aku. Aku yang sejak awal selalu takut kehilangan. Selalu berpikir dia akan meninggalkan. Tapi aku. Aku sendiri yang selalu tiba-tiba ingin hilang dan pergi.
Aku yang selalu menanya 'kamu lelah? Cape? " saat dia mulai mengeluh lagi tentang komunikasi. Dan lagi, ya. Selalu aku yang lalu pergi.
Dan saat dia berkata "Ga perlu datang lagi kalau cuma untuk menambah sakitku. "
Saat itu juga aku memberitahunya "Demi Allah aku ga akan menyakitimu lagi. "
Lalu pergi.
Saat itu juga aku memberitahunya "Demi Allah aku ga akan menyakitimu lagi. "
Lalu pergi.
Kenapa tak terpikir olehku bahwa saat itulah justru aku menyakitinya paling sangat. Ah biarlah. Toh aku sendiri sudah sangat tersakiti dengan semua ini.
***
Aku memegang selang dan flash infus, sedang mama membimbing gerakan memasukkan lengan papa satu persatu. Hampir selesai kami membantu papa ganti pakaian, terdengar pintu diketuk.
"Assalamualaikum.. "
Mama bergegas membuka pintu. Perempuan itu masuk dan mencium tangan mama, lalu pipi kiri dan kanan mama. Berjalan menghampiri papa, lalu mencium tangan papa yang masih tertanam jarum infus, sambil bertanya "Sakit apa om? "
Aku terhenyak. Bertanya-tanya sedang apa dia di sini. Dari mana dia tahu papaku sedang dirawat di sini. Kenapa dia berani masuk ruangan ini. Sedang aku saja tak punya keberanian untuk menjenguknya saat tahu dia sedang terbaring di bangsal yang sama.
"Masih hujan. Aku antar ya.. "
Kubuka pintu kiri depan. Dia masuk. Duduk menyandar. Tak begitu jelas menatap wajahnya dari samping, bahkan masker itu tak sekalipun dilepasnya sejak masuk ruang rawat papa tadi.
Akupun banyak terdiam di balik kemudi. Sesekali menanyainya "Dingin? " Lalu memutar tombol pendingin ke suhu yang mungkin akan membuatnya lebih hangat.
"Pusing? " Tanyaku. Dia hanya menggeleng.
Aku melirik tangan kanannya yang dia katupkan ke tangan kirinya. Sambil mendekap tas itu -bergambar perempuan berkerudung dengan caption 'And Allah knows what you conceal and what you reveal'-
Ya tangan kanan itu. Tangan yang biasa menggenggam tangan kiriku. Tapi aku tak kuasa melakukannya lagi. Bahkan tak terpikir olehku untuk menjulurkan, menawarkan, mungkin dia butuh genggaman untuk menguatkan, mengusir sakitnya, dan memulihkannya.
Aku sering merasa bodoh, tak mampu memaknai pandangan mata dan isak tangis perempuan. Tapi sesering itu pula aku selalu mengingkari, lelaki bisa lebih sedih dari apapun.
Terakhir terdengar lirih ucapnya "Ngapain kamu tadi di situ.. "
Tapi begitu aku bertanya kenapa, dia hanya diam. Tak berusaha mengulang kata.
Andai aku masih mampu meraih tangannya. Ingin kubisikkan pelan seperti waktu itu "Jangan pulang dulu.. "
Tatapannya lurus ke depan. Tubuhnya terlihat sangat lemah. Mungkin banyak yang ingin diucapnya. Tapi seperti yang sudah-sudah. Kenapa aku selalu lebih dulu menyimpulkan dengan pikiranku sendiri, sebelum banyak hal tak sempat tersampaikan olehnya.
Mungkin bila saat itu ada petugas pemutar lagu, dia akan memilih lirik;
Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua
Kulihatnya pergi
Semua kuterima apa adanya
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua
Kulihatnya pergi
Gerimis belum mau reda. Dan dalam kesunyian itu, boleh jadi dia lebih memilih lirik;
Bersamamu
Kulewati lebih dari seribu malam
Bersamamu
Yang kumau namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Kulewati lebih dari seribu malam
Bersamamu
Yang kumau namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
My Season 3, Chapter 2, Page 29
February 29, 2020
Pray
February 29, 2020
Pray

Tidak ada komentar:
Posting Komentar