Helaan nafas panjangnya mencuri hingar. Bahkan mengalahkan konser musik jangkrik di luar sana. Melelehkan sisa-sisa yang masih bisa meleleh di sela kerutan bagian muka pakaian sembahyangnya. Di duduk setelah sujudnya dia berbisik, bibirnya bergetar memekik tertahan
"Alhamdulillah... Aku masih baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. "
*
"Dia tak berdosa. Tak layak untuk dipersalahkan. Aku tak akan memintamu menyayangi dia. Pun melarangmu membenci dia. "
Habis kata. Butuh waktu untuk dia berdamai dengan rasa sendiri.
*
"Harus ke dokter. Bayinya tak bergerak. Detak jantungnya hilang dan muncul. Tak ada rabaan mengeras yang biasanya terasa di perut bawah. "
Bergegas. Belum puas ratapan beberapa menit berlalu. Membenahi karet rambutnya yang sedikit turun dan miring ke kiripun harus dengan perjuangan. Tak beraturan gerakan tangannya memasang pengaman kepala. Berlalu saja mengacuhkan gerimis yang kadang menghalangi pandangannya. Melihat deret nama di daftar antrian panjang. Merebut pena yang masih terpegang pengantre pria yang menurutnya banyak bertanya itu.
Mencoba memanggil beberapa nama di layar ponselnya. Dan tak satupun yang terhubung.
Melihat jam, merasakan ada yang kurang. Perutnya terabaikan. Lupa saat makan siang yang harus kesorean. Parkir di sebelah tukang bakso di pojok toko alat tulis. Baru sadar, dompetnya berisi tinggal selembar. Itupun terselamatkan, karena sarapan pagi di kantin ditolak, sambil memiringkan jempol, si mbak bilang "Sampun dibayar bapaknya. "
Melangkah lagi beberapa meter, menuju mesin anjungan tunai di mini market.
Melaju kembali membelah jalan basah. Sesuatu menarik perhatiannya lagi. Segera mencari di kanan kiri sepanjang jalan, mengisi tangki, sebelum motor tuanya mogok ogah mengantarnya kemana-mana.
Mendesah.
*
Dipeluk dan dielusnya kaki mungil yang makin panjang dan berisi itu. Memijitnya pelan sambil bergumam
"Terima kasih Tuhan. Kau buat dia pulang. Kau ijinkan selamat dari hujan petir yang menakutkan tadi. "
Dan 'bug! ' Kaki itu menimpuk perutnya berkali-kali. Teriakan kecil lalu tangisan nyaring "Engga mau. Engga mau. Mama elek. "
Memaksanya beranjak, duduk dan menangis pilu
"Kenapa nak? Ada yang sakit? Maafin mama ya. "
Pergelangan tangannya perih tercabik kuku-kuku mungil yang cubitannya mengalahkan orang dewasa.
Lalu dengan tangan kiri memegang botol susu, tangan kanan menggesek-gesek bentolan membatu bekas gigitan nyamuk. Tenang. Terlelap kembali.
*
Ada yang ingin dia sampaikan. Kamu selalu jadi orang pertama yang ingin dia kabarkan. Tak memintamu datang. Terlalu muluk baginya menginginkan minum teh bersama di beranda. Berpegang tangan sambil bercerita tentang pagi dan hujan. Dia tak meminta tubuh utuhmu bersentuh merangkulnya. Pun seluruh inderamu. Hanya sedikit pandangan mata dan telingamu. Dia butuh bercerita.
March14, 20.24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar