#NulisKilat @StorialCo
Menikahlah Nak...
"Laki-laki? Alhamdulillah. Sabtu, selesai kuliah jam kedua aku pulang.
Jangan lupa kak. Titip nama ya. "
"Iya. Bahasa Jepang kan? Artinya kebaikan? "
Rumah nenek. Tahu kan suasananya? Pelajaran Mengarang Bahasa Indonesia, tugas libur panjang saat di Sekolah Dasar, selalu memilih judul itu. Tak peduli semua kawan juga mentajuk sama. Nuansa kampung halaman, aroma pagi di tepian sungai, suara gesekan daun bambu saat tertiup angin, helaan nafa lega di hamparan hijau tanaman padi yang tingginya di atas mata kaki, dan rutinitas menebar biji jagung untuk ayam piaraan di halaman belakang. Tak ketinggalan harumnya gorengan tempe sesaat ditiriskan dari atas tunggu untuk lauk sarapan, makan siang maupun malam yang tak pernah bosan.
"Beratmu berapa kak? "
"Hmmm... Kalau tidak salah 26 kilo tante. "
"Halah... Gaya kamu ya. Bicaranya sudah mirip orang dewasa aja. "
Terpingkal teman kantor menyaksikan kelucuannya.
Kantor delapan lantai itu menjadi tempat favoritnya, saat sang tante mengajaknya bermain di sela jam kerja. Naik turun tangga dan lift selalu seru baginya. Apalagi setelahnya, dia bisa menikmati perjalanan keliling kota dengan angkutan kota warna biru. Berenang, lalu makan ayam goreng di restoran cepat saji.
"Suka ya ikut tante? Tidak kangen ibu? "
"Suka. Di sini banyak tante-tante cantik. "
"Tadi nonton film apa? Ceritain dong. "
"Pada suatu yang cerah, ada seorang anak kecil perempuan bermain dengan boneka salju, yang dibangunnya sendiri di depan rumah. Dia menyebutnya yukidazen. Dia suka bicara dengannya. Seperti temannya... "
Rumah kos dua lantai, dengan delapan kamar tidur dan dua kamar mandi serta ruang jemuran tertutup di lantai atas. Tiga kamar tidur, satu kamar mandi di lantai satu, dapur, ruang tivi, area terbuka di samping untuk mencuci piring, dan satu dapur. Serta garasi yang hampir sering kosong, diisi beberapa kursi tanpa meja, lebih berfungsi sebagai ruang menerima tamu. Anak kos yang beragam, mulai siswa SMU, mahasiswa, dan sisanya pekerja.
Kehadiran anak berusia tiga tahun, yang gendut, lucu, tak malu bergaul dengan siapa saja, selalu mengundang tawa. Keramaian yang tak seperti hari-hari biasa, selalu jadi cerita. Bila lama tak datang, semua bertanya. Bikin rindu, mereka bilang.
"Ada info lowongan pekerjaan? "
"Untuk siapa? "
"Aku. "
"Kenapa? Males kuliah? "
"Bukan. Gak nyampe. "
"Apanya yang gak nyampe? "
"Otaknya. "
Sang ibu terpukul. Lebih-lebih lagi sang nenek. Meski dengan sangat hati-hati sang tante menyampaikan berita itu. Airmata tumpah di ruang tamu rumah tua itu.
"Eyang uti, eyang kung. Sebentar lagi akan jadi buyut nggih. Akan segera menimang cicit. Paman, bibi, kita akan jadi eyang loh. Seorang cucu akan segera lahir di keluarga kita. "
Ah... Kadang cinta memang unik. Merubah seseorang tiba-tiba. Mengagetkan, mengecewakan, mengharukan, membahagiakan.
Menikahlah kalian karena cinta, dan karena Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar