"Waaah. Ini sih lebih dari cukup say. Berlebihan dong namanya."
"Sudah ah, jangan cerewet. Cepet makan. Keburu dingin."
Aya memandangi mangkuk yang berisi penuh bakmi kuah kesukaannya. Memang sahabat terbaik. Aya tersenyum sambil memegang sendok dan garpu.
"Gimana Ay?"
"Hmm. Sayurnya kriuks. Mie nya lembut. Potongan ayam dan udangnya paass. Tapi..."
"Tapi apa? Pasti kamu akan bilang kurang pedes. Ya kan?"
"Aah, tau aja siih." Aya terkekeh
"Hush. Cukup segitu. Jangan terlalu pedes. Kamu kan baru sembuh dari typus. Ingat kata dokter."
"Iya iyaa. Aku stop makan pedes kok."
Seselera itu Aya pada semangkuk bakmi kuah. Secepat itu pula dia melahapnya sampai habis. Bahkan kuah yang tinggal sedikit itu pun, dia minum sampai tak tersisa.
Semoga apa yang kau makan hari ini, akan membuatmu kenyang, sehat dan berkah. Aya tersenyum perlahan. Kalimat itu selalu terngiang kapan dan di manapun dia sedang makan. baginya itu sebuah ungkapan yang penuh dengan kepedulian dan doa. Dan dalam hati Aya akan selalu mengaminkan.
"Ya ampuun. HP merah ini. Perasaan ketemuan kemarin udah ganti HP. Tapi kok sekarang kau pakai lagi."
"Iya memang sudah ganti. Tapi bukan berarti aku sudah tidak memakainya lagi kan."
"Hmm, emang susah banget ya ngelupain dia."
Hehe. Aya tersenyum kecil. Ada kegetiran dan sedih yang terpendam dalam senyumnya.
"Say, aku tak pernah sedikitpun berupaya melupakannya. Aku menyimpan segala ingatanku tentangnya. Dan mengenang semua cerita yang pernah kita punya."
"Tapi kamu terluka Ay. Terlalu banyak rasa pedih dan kecewa yang dibuatnya padamu. Dia mengatai dirinya brengsek. Dan dia sudah membuktikan sendiri sebrengsek itulah dia adanya."
"Iya. Aku tau Ty. Dia selalu berpikir dan menilaiku buruk. Meski aku lelah harus selalu arguing. Tapi aku tak pernah pergi, atau memintanya meninggalkan. Meski pada akhirnya dia juga yang memilih pergi. Aku juga tak pernah meminta nya kembali. Aku hanya fokus menyelesaikan masalah-masalah hidupku sendiri."
"Tapi dia sudah pergi Ay. Dia mengabaikanmu. Dia memilih orang lain kan. Kenapa kamu masih menunggu nya."
"Hey, bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu."
"Buktinya. kau masih merindukan semua tentangnya kan. HP pemberiannya masih kau pakai. Tanpa kamu sadari, setiap kali kita ada waktu bersama seperti ini, aku sering melihatmu melamun, merenung, tersenyum sendiri. Meski banyak waktu kita habiskan untuk ngobrol dan tertawa. Tapi di sela-sela nya kamu selalu terlihat sedih dan murung."
"Oh ya? emang aku setidakpandai itu menyembunyikan rasaku Ty?"
"Hahaha. Tidak semua orang pintar berbohong Ay."
Aya tertawa. Bersyukur sahabatnya selalu ada di sampingnya. Perhatian dan kasih sayangnya sudah seperti saudara sendiri. Sambil merapikan letak taplak meja yang sedikit miring, Aya mengambil tissue.
"Ada untungnya kah aku bohong padamu Ty. Aku sungguh tak menunggu dan meminta dia kembali, Beneran. Sekali lagi. Sekali lagi ya. Aku jelaskan padamu, aku hanya menghargai semua rasa dan cerita tentang kita. Yang pernah kita ciptakan dan nikmati berdua dulu. Tak lebih dari itu."
"Kalau suatu saat dia akan datang lagi. Apa kau akan menerimanya?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung seberapa effort dia menunjukkan itikad baiknya. Dan tergantung seberapa berkenan Tuhan memberi jalan untuk takdir kami."
"Semoga yang terbaik untukmu say."
"Aamiin. Kau pun begitu ya. Semoga kita senantiasa dilimpahi kesehatan, kesabaran, kekuatan dalam melanjutkan hidup ya. Semoga Tuhan selalu melindungi dan membimbing anak-anak kita agar tumbuh menjadi dewasa yang sehat, berpendidikan dan berakhlak mulia. Semoga mereka nanti akan menjadi penjaga kita di dunia dan di surga."
"Aamiin. Semoga mereka mengerti ya Ay. Betapa perjuangan kita membesarkannya sebagai ibu tunggal."
"Pasti Ty. Anak-anak akan selalu belajar cara menghargai dan berterima kasih."
Di luar mulai temaram. Aya bangkit dari sofa. Mulai menyalakan lampu-lampu teras dan ruang tengah. Menutup satu persatu gorden jendela. Sedikit menghirup udara sejuk senja. Sebelum akhirnya menutup pintu ruang tamu saat terdengar adzan Maghrib berkumandang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar