Sabtu, 09 Juli 2022

Eid al Adha Mubarrak

 






"Silahkan masuk nak Tuty. Aya seperti biasa. Di balkon."

"Baik tante. Saya langsung naik saja ya."

Perempuan 77 tahun itu mengangguk dan tersenyum. Sambil memperhatikan langkah sahabat anaknya yang mungil itu satu persatu menaiki anak tangga. 

"Hai Ty. Makasih masih mau berkunjung. Kau sehat kah? "

"Alhamdulillah. Kau lihatlah sendiri. Bila aku menaiki anak tangga saja sambil melompat. Apa artinya? Aku sehat kan? "

"Ah kau. Dari dulu kau selalu tampak setrong dan set set wet. Hahaha... "

Mereka selalu tergelak saat berjumpa. 

Tuty sekilas memandang wajah sahabat nya. Usia telah banyak memakan wajah cantiknya. Ujung mata luarnya makin menurun dan mengerut. Aya selalu menyebutnya mata tua.

Dalam hati Tuty menggumam "Ah, Ay. Kau sungguh wanita luar biasa. Kau selalu pandai menyembunyikan semua luka hatimu. Sungguh, kau tak sebanding bila harus disejajarkan dengan para perempuan yang menyebut Yoga 'mas Pray, koko Yoga, om Gila, dan Ayah Baru Mm Qmel'. Kasihmu sungguh besar. Tak pantas untuk kau perjuangkan bagi lelaki yang menyebut dirinya sendiri 'brengsek, benalu, pantas dimaki bahkan dihajar sampai berdarah'. Kau terlalu mulia untuk direndahkan oleh orang yang kau cintai. "


"Apaan sih. Ngeliatnya gitu banget. Kangen ya. "

Tuty buru-buru membuang muka saat ketahuan sedang membatinnya. 

"Engga kok. Aku senang melihatmu makin bugar. Pandangan matamu juga lebih berbinar. "

"Pasti dong. Siapa yang engga seneng. Dikunjungi sahabat. Cuma kamu yang paling sering menemuiku, menemani aku, mendukung di saat apapun kondisiku. Terima kasih ya Ty. "

"Ah. Never mind. That's what's friend are for kan. "

Tuty kembali mengamati meja bulat kecil di ujung balkon itu. Dengan kursi rotan setengah lingkaran di kanan kirinya. Tempat favorit Aya untuk menikmati sendirinya. Baik saat mencari inspirasi untuk menulis. Pun saat dia 'menunggu Yoga' dalam pemulihan amnesia nya. Kunci mobil, kacamata hitam, dan handphone pemberian Yoga, masih selalu teronggok di sana. 


"Hey. Apalagi yang kau perhatikan. Tenang Ty. Aku sudah sembuh. Aku sudah mengingat semuanya. "

"Oh ya? Lalu kenapa benda-benda itu masih di situ? "

"Oh ini. Tak apa. Aku suka saja menempatkannya di sana. Sebagai kenangan yang menemani dan memulihkan semua ingatanku. "

"Emm.. Lalu. Kau masih menunggunya datang? "


Aya menarik nafas dalam. Hening sejenak suasana balkon. Angin bulan Juli yang mulai bertiup agak kencang menyingkap korden warna coklat susu di kamar Aya. Sedikit membuat suara gemerisik lembar kalender yang tertempel di dinding. 

"Aku sudah tahu semua Ty. "

"Lalu, kau masih akan menunggunya datang? "

"Hehe. Dia tidak akan datang. Tidak akan pernah. "

"Kau masih berharap? "

"Iya. "

"Hah? Katamu kau.."

"Iya. Harapanku hanya satu. "

"Apa itu?"

"Dulu aku ingin mengembalikan semua ingatanku."

"Sekarang? "

"Aku ingin lupa. "

Tuty menghela nafas panjang. Tersenyum dan berkaca-kaca. Diliputi rasa haru dan syukur yang mendalam. Hatinya berseru "Berbahagialah Ay. "




Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar

Laailaa haillallahu allahu akbar

Allahu akbar walillahilhamd



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...