Yang di antara warna biru dan jingga itu dia menyebutnya batas cakrawala
Menenggelamkan cahaya di antara ketiak senja
Dan tepiannya mendatar melengkung
Berpendar antara gelombang dan pasir dia menyebutnya garis pantai
Tak cukup menulis cerita di tiap titiknya
Pun berlembar kertas putih, bergaris dan polos
Entah flash, resensi, puisi, true story, kompetisi, fiksi, atau sekedar coretan menjelang pagi
Yang tak dimintanya siapapun untuk memaknai
Serupa barisan siswi sekolah dasar yang mengacungkan bendera mini
Terbahak lepas menyaksikan sang Presiden melambaikan tangan di balik roll bar kendaraan terbuka
Atau di antara senyum lebar para pemuda tanpa rutinitas yang sedang bersulang arak
Pun di sudut meja hening yang penuh aroma kopi
Melingkar para penikmatnya tak bersuara
Yang tak dimintanya untuk mengerti
Serupa batita di gendongan ibunya, berhimpit di antara tontonan pawai saat tengah hari terik
Yang bahkan selendangnya menjuntai tak melindungi kepalanya sama sekali
Jangankan tersenyum, mengernyitkan dahipun tak tahu caranya
Yang tak dimintanya untuk memahami
Seperti ekspresi nelayan dengan baling-baling sekocinya yang patah
Hanya mengikuti riak arus sungai membawanya kemana
Yang tak dimintanya siapapun untuk bertanya
Seperti turis asing memandang tiap bongkah tersusun tinggi pada stupa Borobudur
Atau berbinar memandang hijaunya terasering Ubud
Tanpa berkata-kata, hanya decak kagum bergumam sendiri
Sungguh dia mengalir
Mengikuti ajakan aksara merangkai dirinya sendiri
Bahkan kadang tanpa rima dan diksi
Jan31, 02.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar